Ads 468x60px

Pages

Sunday, March 17, 2013

Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia


Perubahan Struktur Ekonomi
·Suatu proses pembangunan ekonomi yang cukup lama dan telah menghasilkan suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya disusul dengan suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonominya. Perubahan struktur ekonomi terjadi akibat perubahan sejumlahf aktor, bisas hanya dari sisi permintaan agregat, sisi penawran agregat atua dari kedua sisi pada waktu yang bersamaan (Tulus Tambunan, 1996).
·Dari sisi permintaan agregat, faktor yang sangat dominan adalah peningkatan tingkat pendapatan masyarakat rata-rata yang perubahannya mengakibatkan perubahan dalam selera dan komposisi barang-barang yang dikonsumsi. Hal ini menggairahkan pertumbuhan industri baru.
·Dari sisi penawaran agregat, faktor utamanya adalah perubahan teknologi dan penemuan bahan baku atau material baru untuk berproduksi, yang semua ini memungkinkan untuk membuat barang-barang baru dan akibat realokasi dana investasi serta resources utama lainnya dari satu sektor ke sektor yang lain. Realokasi ini disebabkan oleh kebijakan, terutama industrialisasi dan perdagangan, dari pemerintah yang memang mengutamakan pertumbuhan output di sektor-sektor tertentu, misalnya industri (Tulus Tambunan, 1996).

Profil Perekonomian Indonesia Akhir Pelita V
·Profil ekonomi memberikan gambaran luar atau pola garis bentuknya (countour), sedangkan strktur ekonomi menggambarkan bagian dalamnya (anatomi) suatu perekonomian.

Profil perekonomian Indonesia menjelang akhir Pelita V ditunjukkan oleh empat segi yang kait mengkait dalam perkembangan keadaan, yaitu : pertumbuhan ekonomi, lapangan kerj aproduktif, neraca perdangan dan pembayaran luar negeri, perkembangan harga dalam negeri (infalsi). Empat segi permasalahan itu sekaligus dijadikan serangkaian tolok ukur dalam penilaian kita tentang jalannya perekonomian dalam perjalanan waktu. (Soemitro Djojohadikusumo, 1993).

Pertumbuhan Ekonomi
Ø  Kebijaksanaan deregulasi sejak tahun 1983 mendorong terjadinya ekspansi ekonomi dan ekspansi moneter. Serangkaian deregulasi mendorong kegitan swasta untuk melakukan ekspansi ekonomi. Sementara meningkatnya permintaan domestik, baik permintaan untuk konsumsi maupun untuk investasi, mendorong terjadinya ekspansi moneter.
Ø  Ekspansi ekonomi ditandai oleh :
1)      Meningkatnya lalu pertumbuhan ekonomi (GDP): 7,5%, 7,1%, 6,6%, (1989, 1990, 1991).
2)      Meningkatnya laju pendapatan bruto (GDY): 7,5%, 10,5%, 7,1% (1989, 1990, 1991).
3)      Meningkatnya investasi sektor swasta): 15,0%, 17,0% (1989, 1990).
Ø  Ekspansi moneter ditandai oleh :
1)      Meningkatnya jumlah uang beredar (M2): 40%, 44%, 7,1% (1989, 1990).
2)      Meningkatnya volume kredit bank: 48%, 54% (1989, 1990).
3)      Meningkatnya laju inflasi: 5,5%, 9,5% (1989, 1990).
Ø  Ekonomi terlalu panas (overheated)
Ekspansi ekonomi yang ditandai oleh laju pertumbuhan pesat selama tiga tahun berturut-turut dianggap terlalu panas (overheated) dari sudut kestabilan keuangan moneter. Bila hal ini dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan kestabilan harga dalam negeri dan melemahkan neraca pembayara luar negeri. Karena itu pemerintah melakukan kebijaksanaan uang ketat (TMP = Tigh Money Policy)
Ø  Kebijaksanaan Uang Ketat (TMP) meliputi :
1) Kebijaksanaan fiskal/ keuangan negara
- Meningkatkan penerimaan pajak untuk tahun fiskal 1991/1992 dan 1992/1993.
-  Penerimaan dari sektor non-migas dapat melebihi sasarannya, sehingga tahun fiskal 1991/1992 secara riil tercapai surplus pada anggaran negara.
2) Kebijaksanaan Moneter/ Perbankan
- Melakukan politik diskonto (suku bunga) dan open market operation melalui SBI, untukmembatasi kredit perbankan.
- Mengawasi nisbah likuiditas bank terhadap volume kredit (LDR : Loan to Deposit Ratio), dan nisbah kekuatan modal bank (CAR = Capital Adeuqcy Ratio).
- Dampak dari TMP adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 1991 menjadi 6,6% di samping karena musim kemarau yang panjang.