Ads 468x60px

Pages

Monday, March 18, 2013

Sistem Ekonomi Kolonial

Ciri perekonomian kolonial 
Pada jaman Kolonial belanda, ekonomi Indonesia diwarnai oleh suatu strategiyang melahirkan dualisme dalam kegiatan ekonoi, yaitu dualisme antara sektor ekspor (enclave) dan sektor tradisonal (hinterland). Sektor ekspor diwakili dengann kehadiran perkebunan-perkebunan di daerah pedesaan (Suroso, 1994). 

Pendirian perkebunan di daerah pedesaan semata-mata karena pertimbangan lokasi yang menguntungkan (tanah subur, iklim cocok) dan bukan untuk menciptakan lapangan kerja baru untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Pasar dunia dan sektor ekspor terpisah dengan sektor tradisional, karena sektor ekspor berhubungan langsung dengan pasar dunia dan mendapat proteksi dari pemerintah. 

Konsep Dualisme 
Sejak jaman penjajahan sampai saat ini perekonomian Indonesia masih juga menunjukkan ciri-ciri adanya dualisme, baik dualisme yang bersifat teknologis, maupun yang bersifat ekonomis, sosial dan kultural. Boeke memberikan definisi masyarakat dualistis (Anne Booth, 1990) : 

“Masyarakat yang mempunyai dua gaya sosial berbeda, yang masing-masing hidup berdampingan. Dalam proses evolusi sejarah normal yang berlaku bagi masyarakat homogen, kedua gaya sosial tersebut me3wakili tahap perkembangan sosial yang berbeda, dipisahkan oleh suatu gaya sosial lain yang mewakili tahap transisi, misalnya : masyarakat sebelum kapitalisme dan masyarakat kapitalisme maju yang dipisahkan oleh masyarakat kapitalisme awal….” 

Statistik Ekonomi Kolonial 
a. Kedudukan dan Fungsi Hindia Belanda 
Sistem pemerintahan Kolonial (Hindia Belanda) menciptakan sistem ekonomi kolonial yang diarahkan untuk memenuhi kepentingan negeri Belanda. Maka Hindia belanjda sebagai negeri jajahan dijadikan sebagai : 

1) Daerah penghasil bahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri negeri Belanda. 
2) Daerah pemasaran bagi hasil industri dari negeri Belanda. 
3) Daerah penghasil devisa bagi kepentingan negeri Belanda. 

Hal ini terlihat dari peranan perdagangan Hindia Belanda (Indonesia) di masa yang lalu. 

Peranan Hindia Belanda Dalam Perdagangan 
Peranan Hindia Belanda terlihat dari prosentase ekspor terhadap ekspor dunia untuk beberapa komiditi, antara lain : kina 99%, lada 86%, Kapok 72%, karet 37%, agave 33%, hasil kelapa 27%, minyak sawit 24%, the 19%, timah putih 17%, gula 5% (Soemitro, 1953; di kutip dari Suroso, 1994). 

Perdagangan Hindia Belanda sebelum kemerdekaan sebagai berikut : 

Impor dari Ekspor ke 

Negeri-negeri Asia $ 89.000.000 $ 144.000.000 

Negeri-negeri Eropa 141.000.000 117.000.000 

Amerika 36.000.000 90.000.000 

Afrika 9.000.000 46.000.000 

Australia 8.000.000 22.000.000 

Kira-kira ¼ dari impor Hindia belanda datang dari negeri belanda. Memang merupakan politik belanda untuk mendahulukan Firma-firm Dagang Belanda. 

Selama 20 tahun antara kedua perang dunia, neraca perdagangan Hindia Belanda dengan Amerika mengalami surplus $ 955 juta, sedang nerraca dagang negeri Belanda dengan Amerika defisit sebesar $900 juta. Surplus dari Hindia belanda ini yang dipergunakan untuk menutup defisit negeri Belanda (Soemitro, 1953: dikutip dari Suroso, 1994). 

Pendapatan Penduduk Indonesia Asli 
Menurut data yang dihimpun oleh Polak pada tahun 1942, perekonomian Indonesia telah mengalami masa-masa pasang surut (Anne Booth, 1990) : 

1) Pendapatan riil naik dalam tahun-tahun 1923 – 1928 dan 1934 – 1939. 

2) Masa-masa stagnasi dialami pada waktu terjadi depresiasi dunia tahun 1929 – 1933. 

Antara tahun 1921 – 1939 pendapatan riil penduduk Indonesia asli naik 50% (sekitar 2,6% per tahun). Sedang laju pertumbuhan penduduk waktu itu sekitar 1,5% per tahun. 

Ini berarti bahwa pada masa penjajahan Belanda ada peningkatan kesejahteraan hidup rakyat meskipun kecil dan lambat sekali.